Kamis, 08 Maret 2012

Kerajinan Kain Tenun Gamplong, Yogyakarta


Alamat: Sumber Rahayu, Moyudan, Sleman, Yogyakarta

Terdapat lima padukuhan di Gamplong. Mayoritas warganya melakoni profesi sebagai petani dan penenun. Sejak 1950-an, desa berlokasi di Jalan Wates km 13 ini terkenal sebagai desa penghasil kerajinan tenun. Keterampilan menenun didapat secara turun temurun. Semula, perajin Gamplong hanya membuat kain lurik, serbet,dan setagen. Penjualannya pun hanya ke pasar-pasar tradisional seperti pasar Ngijon, Beringharjo, Godean, dan lain-lain. Sejak 1997, produksinya lebih bervariasi. Tas, alas piring, alas meja, sampul kulit, kotak pensil, boks buku, dan sebagainya. Pesanan omsetnya hingga luar kota, juga luar Jawa termasuk Bali.

Sampai sekarang, produksi kain masih menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Sekira 24 industri tenun di wilayah ini. Pembuatan kain tenun menggunakan bahan utama benang pintal, dikombinasikan dengan enceng gondok, akar wangi, mendong, daun pandan, juga lidi. Sebelum dipintal, benang itu dijemur dulu, bisa juga diberi warna sesuai dengan keinginan.

Memasuki krisis global, industri tenun Gamplong Sleman pun kena imbas. Nilai penjualannya menurun sampia 50 persen. Bali, semula banter memesan order, kini jarang. Akibatnya sejumlah perajin terpaksa memangkas pegawainya, terutama justru perajin‑perajin skala besar. Sekira 5 perajin sudah mulai mengistirahatkan sejumlah karyawan.

Perlahan produksi tenun Gampong mulai stabil. Salah satu strateginya, adalah dengan inovasi produk menyesuaikan permintaan pembeli. Perajin juga menambah variasi produk yang dijual dengan bekerjasama dengan perajin‑perajin lain dari luar daerah. Tak hanya berperan menjadi produsen, tapi juga sebagai perantara atau pedagang.

Sumber:

Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2000

www.desawisatasleman.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar